SulselNews

Peringati Hari Bumi 2024, Aktivis Lingkungan Sulsel Dukung Program Penanaman Pohon

INILAHSULSEL.COM – Sejumlah aktivis lembaga lingkungan hidup sepenuhnya mendukung langkah Pemerintah Provinsi Sulsel dalam mendorong penanaman dua juta bibit pohon serta mengajak masyarakat untuk menanam pohon pada peringatan Hari Bumi tahun 2024.

“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung upaya pemerintah dalam menggalakkan penanaman pohon pada Hari Bumi. Meskipun bumi tempat tinggal kita saat ini mengalami degradasi dan kerusakan ekologi yang mengkhawatirkan, penanaman pohon tetap menjadi salah satu solusi yang penting,” ujar Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Sulawesi Selatan, Ahmad Yusran, di Makassar pada hari Senin (22/4/2024).

Mereka berharap bahwa penanaman jutaan pohon ini, bersama dengan ajakan untuk menanam pohon, tidak hanya menjadi simbolik semata, melainkan juga menjadi langkah konkret dalam mencegah dampak perubahan iklim yang semakin meluas.

“Kami berharap bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni penanaman pohon semata. Yang tak kalah pentingnya adalah meningkatkan kesadaran akan literasi iklim yang semakin meningkat dengan cepat, serta menghadapi bahaya yang diakibatkan oleh perilaku manusia,” tegas seorang Anggota Dewan Kongres Sungai Indonesia.

Yusran mengamati dampak buruk yang ditimbulkan oleh ulah manusia terhadap lingkungan, seperti merusak ekosistem hutan melalui pembukaan lahan, pembalakan, dan eksploitasi tambang, serta penggunaan berlebihan racun seperti insektisida dan radiasi yang mencemari udara dan air.

Tidak hanya itu, atmosfer saat ini juga tercemar oleh gas rumah kaca yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil oleh kendaraan.

Bumi menghadapi masalah serius seperti erosi tanah, pencemaran plastik di sungai dan laut, kenaikan permukaan air laut, serta kematian terumbu karang.

Efek dari kerusakan lingkungan juga mencakup kekeringan, kebakaran hutan, angin topan, dan banjir yang semakin sering dan parah. Bahkan, ada ancaman kepunahan bagi spesies flora dan fauna eksotis dalam ekosistemnya, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia.

Yusran menekankan bahwa perubahan iklim global bukanlah hal baru dalam sejarah evolusi bumi, tetapi merupakan ancaman serius bagi lingkungan saat ini.

Menurutnya, dengan perkembangan peradaban dan kebutuhan energi yang semakin meningkat, penting untuk beralih ke sumber energi terbarukan seperti kincir angin dan air.

Namun, masih terjadi eksploitasi berlebihan terhadap bahan bakar fosil, seperti batu bara dan minyak, yang telah disimpan dalam perut bumi selama jutaan tahun.

Hal ini menyebabkan pelepasan karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfer, yang menyebabkan perubahan iklim global.

Yusran menekankan pentingnya kesadaran akan dampak negatif perilaku manusia terhadap lingkungan, sebagaimana telah dijelaskan secara detail dalam Al Quran tentang sistem-sistem bumi yang saling terkait. Ia menambahkan bahwa merusak sistem ini dapat menyebabkan bencana yang serius.

“Harus disadari perilaku kita secara drastis telah mengganggu keseimbangan, padahal dalam Al Quran sudah dijelaskan secara detail bagaimana sistem-sistem bumi itu yang saling berhubungan, bila dirusak maka tentu mengakibatkan bencana,” kata dia menambahkan.

Kepala Departemen Eksternal Walhi Sulsel, Rahmat Kottir, menyoroti krisis iklim yang sedang dihadapi, yang dipicu oleh meningkatnya kegiatan ekstraktif seperti pertambangan nikel.

Di Sulsel, ekspansi pertambangan nikel mengancam ekosistem hutan hujan yang kaya akan biodiversitas. Dampaknya sangat merugikan, termasuk kerusakan habitat, hilangnya keanekaragaman hayati, dan dampak negatif terhadap masyarakat lokal yang bergantung pada hutan untuk kehidupan mereka.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Kepala Divisi Perlindungan Ekosistem Esensial Walhi Sulsel, Sulawesi Zulfaningsih HS, yang menyoroti program hilirisasi.

Ambisi pemerintah dalam hilirisasi nikel di Indonesia tidak mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang.

Sebaliknya, hilirisasi justru meningkatkan ancaman terhadap lingkungan dengan peningkatan konsesi tambang nikel dan pembangunan smelter yang besar, menyebabkan berbagai masalah seperti kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan peningkatan kemiskinan di Sulawesi.

Dalam peringatan Hari Bumi, Walhi Sulsel bersama Green Youth Movement menentang rencana ekspansi tambang nikel PT Vale Indonesia di Blok Tanamalia, Kabupaten Luwu Timur.

Meskipun Sulawesi memiliki cadangan nikel yang besar dan dianggap sebagai aset dunia untuk membangun sistem energi rendah karbon, upaya tersebut menghadirkan dilema yang menyedihkan bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Back to top button